Politisi Golkar: Relawan Ahok 100 Kali Lebih Provokatif Di Twitter

Politisi Golkar: Relawan Ahok 100 Kali Lebih Provokatif Di Twitter

IndoElection.com, Jakarta – Politisi Partai Golkar, Indra J Piliang merespons, aduan Jaringan Swadaya Warga Jakarta (Jawara) yang melaporkannya atas dugaan tindak pidana penyebaran kebencian ke Polda Metro Jaya. Ia dilaporkan karena memposting cuitan dalam akunnya di twitter soal kebijakan “berburu tikus dapat Rp20 ribu per ekor” dari petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersama Djarot S Hidayat.

“Sebelum Relawan Jawara melapor ke Polda Metro Jaya, beberapa pihak sudah hubungi saya tentang dampak dari cuitan itu. Mereka minta saya mewaspadai adanya upaya memelintir cuitan saya untuk kepentingan pihak-pihak yang bersaing dalam pilgub DKI,” kata Indra, Sabtu 29 Oktober 2016.

Menurutnya, bahasa cuitan tentunya berbeda dengan bahasa yang digunakannya sehari-hari. Sebagai kolumnis yang kenyang menulis di media-media massa nasional, jurnal, dan buku, ia mengaku sadar akan pilihan kata-kata yang dipakai akan seperti apa dampaknya.

“Sudah lama saya memperhatikan bagaimana relawan-relawan Ahok mengerubuti akun-akun milik tokoh nasional yang mencoba berkomunikasi dengan publik lewat akun mereka di social media,” kata Indra.

Menurutnya, para relawan Ahok saat mencuit tokoh-tokoh tersebut yang mereka gempur dan hakimi dianggap 100 kali lebih provokatif dibandingkan cuitannya.

“Sebagai orang yang menempuh pendidikan Magister di bidang ilmu komunikasi di Universitas Indonesia, dengan bidang studi semiotika, tentu saya dengan sadar menjaga cuitan saya untuk tidak masuk ke ranah UU ITE, apatah lagi yang terkait dengan imbauan mantan Kapolri Badrodin Haiti tentang hate speech,” kata Indra.

Ia menambahkan di akun twitternya bahkan tiap hari muncul mention yang berisi fitnah. Sepengatahuannya mention tersebut sengaja disusun oleh pihak yang ingin menghentikannya mencuit di twitter, Tapi bukan kali ini saja ia berhadapan dengan akun seperti itu.

“Bahkan sejak 2012 pas saya aktif bersosialisasi sebagai kader Partai Golkar untuk bakal calon presiden yang sudah diputuskan Rapimnas Partai Golkar. Kebanyakan anonim yang punya afiliasi dengan kelompok buzzer Ahok,” kata Indra.

Ia pun mengaku sudah terbiasa dengan akun-akun anonim tersebut. Bahkan ia memperhatikan akun-akun tersebut dalam skala waktu tertentu. Misalnya untuk isu A bisa saja ia sependapat dengan akun-akun tersebut. Tapi pada isu B berbeda pendapat. Hal itu dinilainya sah saja.

“Kalaupun mereka menggunakan cara demoralisasi atas nama baik saya dan keluarga saya, saya anggap itu cara kontra psikologis dan kontra propaganda yang tak perlu ditanggapi dengan cara membawa ke ranah hukum,” kata Indra.

Sebelumnya, Jaringan Swadaya Warga Jakarta melaporkan Politisi Partai Golkar Indra J Piliang karena mengkritik kebijakan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama melalui akun twitter @IndraJPiliang. Komunitas pendukung Ahok berakronim Jawara itu menilai cuitan Indra itu bermuatan tindak pidana penyebaran kebencian.

Menurut Sekretaris Jenderal Jawara, Budi Hermanto, mereka telah melaporkan Indra ke Polda Metro Jaya pada Jumat 28 Oktober. Namun, laporan mereka ditolak kepolisian karena dinilai tak mengandung unsur kebencian seperti yang dituduhkan. (dik)

Categories: Kampanye

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*