Pilkada Denpasar, PDIP Ogah Ubah Foto Di Surat Suara

Pilkada Denpasar, PDIP Ogah Ubah Foto Di Surat Suara

IndoElection.com, Denpasar – Pihak PDIP selaku pengusung pasangan IB Rai Dharmawijaya Mantra-IGN Jaya Negara (Cawali-Cawawali Denpasar untuk Pilkada 2015) pastikan tidak akan ubah foto dalam surat suara. Alasannya, foto berisi gambar logo PDIP yang diprotes kubu I Made Arjaya-AA Ayu Rai Sunasri (paket calon yang diusung Koalisi Bali Mandara) tersebut, sudah ditetapkan seperti itu.

Ketua Tim Pemenangan Paket Dharma-Negara (Rai Mantra-Jaya Negara), I Gusti Ngurah Gede, menegaskan foto dalam surat suara berisi gambar logo PDIP di baju Cawawali IGN Jaya Negara tetap akan dipakai. “Foto untuk surat suara itu tidak akan berubah, karena sudah ditetapkan seperti itu,” tandas Ngurah Gede seusai persembahyangan bersama kandidat dan pendukung di Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Minggu (13/9) pagi.

Menurut Ngurah Gede, tidak perlu lagi ada perbaikan foto dalam surat suara, mengingat KPU Denpasar juga tidak memasalahkan hal tersebut. “Kemarin (Sabtu) sudah kita dengar bersama, foto pasangan calon kami tidak menyalahi aturan,” tegas Ngurah Gede yang juga Ketua DPC PDIP Denpasar sekaligus Ketua DPRD Denpasar 2014-2019.

Sementara, Tim Pemenangan Pasangan Made Arjaya-AA Ayu Rai Sunasri (Calon Walikota-Calon Wakil Walikota yang diusung KBM), hingga Minggu kemarin belum mau tandatangani persetujuan specimen surat suara untuki Pilkada Denpasar, 9 Desember 2015. Alasannya, karena ada gambar logo partai (PDIP) di baju IGN Jaya Negara dalam surat suara untuk Paket Dharma-Negara.

Menurut Ketua Tim Pemenangan Paket AS (Arjaya-Rai Sunasri), Wayan Mariyana Wandhira, pihaknya belum mendapat jawaban terkait perbedaan simbol melekat yang boleh tampak dalam foto dengan tempelan dengan editan tidak boleh dicantumkan.

Untuk memperjelas masalah tersebut, kata Mariyana Wandhira, pihaknya akan konsultasi dengan pakar hukum, Senin (14/9) ini. “Kami besok (hari ini) akan konsultasi dengan pakarnya. Kita ingin tahu alasan KPU membedakan antara simbol melekat dan tempelan karena editan,” tandas Mariyana Wandhira saat dikonfirmasi terpisah, Minggu kemarin.

Menurut Mariyana Wandhira, yang namanya foto, pasti akan menjadi satu kesatuan dalam bidang datar. “Kami juga ingin tahu beda antara simbol dan ornamen,” tegas Ketua DPD II Golkar Denpasar yang juga Wakil Ketua DPRD Denpasar 2014-2019 ini.

Sebelumnya, Tim Pemenangan Paket AS sudah langsung protes atas pemasangan logo partai dalam foto surat suara Paket Dharma Negara, saat acara pengundian nomor urut pasangan calon di KPU Denpasar, Sabtu (12/9). Versi Mariyana Wandhira, logo partai politik secara implisit bisa menggiring pemilih ke pasangan calon tersebut.

“Karena itu, kami belum bisa menandatangani berita acara terkait pengundian nomor peserta. Kami minta kajian terhadap Peraturan KPU (PKPU). Karena, ini jelas-jelas logo partai yang menempel di baju yang digunakan nantinya sebagai foto gambar surat suara,” ujar Mariyana wandhira.

Kubu Paket AS juga mempertanyakan apakah logo partai yang ada pada foto Jaya Negara dan pengalungan bunga dalam foto Paket Resmi-Agung (I Ketut Resmiyasa-IB Batu Agung Antara) dibenarkan. “Kita pasti akan pilih pemimpin yang benar dipercaya, tidak harus memakai simbol dan embel-embel lain. Dalam hal ini kita ingin sekali keterbukaan, kejujuran, sehingga masyarakat punya pemimpin yang menghargai dan menghormati aturan,” ucap Wandhira.

Sedangkan Ketua KPU Denpasar, Gede John Darmawan, menjelaskan bahwa yang tidak dibolehkan adalah logo yang ditambahkan lewat editan komputer.

“Foto dengan kelengkapan ketika foto itu diambil, bisa karena jadi satu kesatuan. Kami sudah ikut Bintek di KPU Pusat terkait PKPU Nomor 6 soal norma standar dan juga SK 117 KPU terkait apa yang menjadi kelengkapan surat suara. Selama foto itu melekat di baju ketika berfoto, itu dibolehkan. Yang tidak dibolehkan adalah hasil editing. Proses ini masih berjalan, jadi masih bisa direvisi sampai tahapan pencetakan surat suara nantinya,” dalih John Darmawan.

Sekadar dicatat, kasus surat suada dalam Pilkada denpasar 2015 ini mirip dengan insiden di Pilgub Bali 2013 lalu. Kala itu, pasangan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta (Cagub-Cawagub Bali yang diusung Koalisi Bali Mandara) protes, karena KPU Bali cetak surat suara berisi gambar logo PDIP dalam foto surat suara pasangan AA Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan.

Setelah sempat terjadi polemik panjang, surat suara berisi logo PDIP itu tetap saja dipakai dalam surat suara PAS (Puspayoga-Sukrawan). Sementara itu, DPC Demokrat Denpasar panggil jajaran kader struktural hingga ke tingkat PAC Demokrat (level kecamatan) dan Ranting DPC Demokrat (level desa) se-Denpasar, Minggu kemarin.

Seluruh anggota Fraksi Demokrat DPRD Denpasar befrjumlah 6 orang juga ikut dipanggil dalam pertemuan di Kantor Sekretariat DPC Demokrat Denpasar itu. Bukan hanya itu, Made Arjaya (politisi militan PDIP yang diusung KBM: Demokrat-PKS disukung Golkar selaku Cawali Denpasar) dan AA Ayu Rai Sunasri (Srikandi Golkara asal Puri Gerenceng yang diusung selaku Cawawali Denpasar) juga dihadirkan langsung dalam pertemuan kemarin. Pertemuan internal Demokrat ini adalah untuk konsolidasi pemenangan Paket AS (Arjaya-rai Sunasri) di Pilkada Denpasar 2015.

Dari pertemuan konsolidasi itu, seluruh kader baik yang struktural maupun yang duduk di Fraksi Demokrat DPRD Denpasar, diwajibkan untuk memenangkan Paket AS. Namun, tidak ada ancaman PSW segala dari keanggotaan Dewan, jika Paket AS sampai kalah di kampung halaman kader legislatif bersangkutan.

Rapat konsolidasi pemenangan Paket AS kemarin dipimpin Ketua DPC Demokrat Denpasar, I Made Gandhi, didampingi Sekretaris DPC Wayan Bundra, dan Ketua Fraksi Demokrat DPRD Denpasar AA Susruta Ngurah Putra. “Ini rapat konsolidasi internal, sekalian kita pertemukan kader Demokrat dengan kandidat Made Arjaya-Rai Sunasri. Sekalian ada penyampaian komitmen kandidat kepada kader Demokrat,” ujar Susruta Ngurah Putra.

Menurut Susruta, kader Demokrat intinya siap all out memenangkan Paket AS di Pilkada Denpasar 2015. Pihaknya tidak menerapkan sanksi kepada kader dalam bekerja memenangkan Paket AS. “Kita tidak ada istilah ancam-mengancam dengan PAW segala. Itu tidak baik dan bukan budaya di Demokrat. Kita cerdas, santun, dan tidak mengeluarkan ancaman. Yang penting kita tekankan, kerja dan menangkan Pilkada. Kami yakin kader all out,” tandas politisi Demokrat asal Puri Gerenceng ini.

Sementara, Ketua DPD Demokrat Bali Made Mudarta mengatakan Paket AS diundang DPC Demokrat Denpasar sekalian untuk diminta komitmennya ke depan. “Nanti kalau menang, Arjaya adalah Walikota Denpasar, bukan petugas partai. Saya tegaskan dia dimenangkan untuk jadi Walikota Rakyat Denpasar, bukan petugas partai,” tandas Mudarta.

Untuk itu, lanjut Mudarta, sekarang saatnya rakyat Denpasar wajib dukung Arjaya untuk Perubahan di Denpasar. “Kita ini mengusung figur Arjaya-Sunasri. Kami yakin kader Demokrat punya komitmen memenangkan Arjaya-Sunasri dan pasti semamgat kita habis-habisanlah. Karena kita ingin Pilkada ini bisa memberikan perubahan di Denpasar untuk kesejahteraan masyarakat,” imbuh Mudarta. (dik)

Categories: Kampanye

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*