Korea Utara Bebaskan Pendeta asal Kanada

Korea Utara Bebaskan Pendeta asal Kanada

kumparan – Korea Utara membebaskan seorang pendeta Kanada, yang menjalani hukuman seumur hidup di negara itu. Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA melaporkan, pendeta tersebut dibebaskan dengan alasan kemanusiaan.

“Rim Hyon-Su, warga Kanada, dibebaskan dengan jaminan sakit sesuai dengan keputusan Pengadilan Pusat DPRK pada 9 Agustus 2017, dengan alasan kemanusiaan,” demikian dilaporkan KCNA, seperti dilansir Reuters, Kamis (10/8).

Pendeta yang juga dikenal dengan Hyeon Soo-Lim tersebut, bertugas di salah satu gereja terbesar di Kanada. Dia dijatuhi hukuman kerja keras seumur hidup pada Desember 2015 di Korea Utara karena disebut berupaya menggulingkan pemerintahan Korea Utara.

Namun pemerintah Kanada tak membiarkan begitu saja warganya menjadi tahanan di Korea Utara. Melalui Daniel Jean yang merupakan penasihat keamanan nasional PM Kanada, Justin Trudeau, Kanada berupaya untuk membebaskan Soo Lim.

“Delegasi pemerintah Kanada saat ini berada di Pyongyang untuk membahas kasus Pastor Lim,” kata sekretaris media Trudeau, Cameron Ahmad.

“Kesehatan dan kesejahteraannya tetap sangat penting bagi pemerintah dan kami jelas terus terlibat dalam kasusnya. Dan mengingat bahwa ini adalah kasus yang aktif, kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut saat ini,” katanya.

Keluarga Lim semakin peduli dengan kesejahteraannya sejak kematian pelajar Amerika Serikat, Otto Warmbier, yang telah ditahan di Korea Utara selama 17 bulan. Warmbier meninggal di rumah sakit Cincinnati beberapa hari setelah dia dilepaskan dalam keadaan koma.

Selain Lim, yang berkewarganegaraan Kanada, Korea Utara saat ini juga menahan tiga orang warga Amerika Serikat.

Gereja di Toronto tempat Lim bertugas mengatakan bahwa Lim sudah mengunjungi Korea Utara lebih dari 100 kali sejak 1997 dan membantu mendirikan panti asuhan dan panti jompo.Tahun lalu, Lim mengatakan kepada CNN bahwa dia menghabiskan delapan jam sehari untuk menggali lubang di sebuah kamp kerja paksa, di mana dia belum pernah melihat tahanan lainnya.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS telah melarang warganya untuk bepergian ke Korea Utara. Bagi yang saat ini masih di Korea Utara, diminta untuk meninggalkan negara tersebut sebelum tanggal 1 September. Meski begitu, wartawan dan pekerja kemanusiaan menjadi pengecualian, bila mengajukan permohonan.

Pemerintah AS mengeluarkan larangan tersebut karena adanya risiko penahanan jangka panjang. Larangan itu diberlakukan bersamaan dengan ketegangan yang terjadi antara AS dan Korea Utara, karena negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un tersebut, berupaya mengembangkan sebuah peluru kendali berhulu ledak nuklir yang mampu menghantam wilayah AS.

Sumber : kumparan.com

Categories: Artikel

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*