Keterwakilan Perempuan di Pilkada 2015 Cuma 7 Persen

Keterwakilan Perempuan di Pilkada 2015 Cuma 7 Persen

IndoElection.com, Jakarta – Keterwakilan perempuan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2015 masih sangat kurang.

Berdasarkan perhitungan Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), diketahui dari 1.584 peserta yang memenuhi syarat sebagai peserta hanya 116 atau 7,32 persen yang berjenis kelamin perempuan.

Berdasarkan penelurusan Perludem melalui laman infopilkada.kpu.go.id, diketahui 115 perempuan yang berpartisipasi pada Pilkada serentak 2015, 54 diantaranya mencalonkan diri sebagai kepala daerah, dan 62 orang tercatat sebagai calon wakil kepala daerah.

Para perempuan tersebut tersebar di 90 daerah dari 262 daerah kabupaten, kota dan provinsi. Persentasenya adalah kabupaten 76 orang dari 219 wilayah, kota 13 orang dari 34 wilayah, dan provinsi hanya satu orang dari 9 wilayah. Sedangkan berdasarkan wilayah partisipasinya, tercatat 79 orang mendaftar di tingkat kabupaten, 13 orang di tingkat kota, dan satu orang tingkat provinsi.

Dari penelusuran latar belakang, untuk yang memiliki latar belakang anggota DPR, DPD maupun DPRD, 26 orang mendaftar sebagai kepala daerah, 20 orang sebagai kepala daerah. Untuk perempuan yang memiliki hubungan kekerabatan dengan elite politik, 21 orang mendaftar sebagai kepala daerah, 8 orang sebagai wakil kepala daerah.

Untuk peserta yang berstatus petahana, diketahui adaa 19 orang kepala daerah, dan 1 orang wakil kepala daerah. Peserta yang berstatus kader partai, diketahui ada 18 orang yang mendaftar sebagai kepala daerah, 21 orang sebagai wakil kepala daerah.

Peneliti Perludem, Mahardika, kepada wartawan di kantor Perludem, Kebayoran Baru, Jakarta Pusat, Minggu (13/7/2015), menyebut kurangnya keterwakilan perempuan, patut dikhawatirkan, karena potensi dikeluarkannya kebijakan yang pro perempuan akan semakin sedikit.

“Kita butuh adanya kehadiran perempuan di pembuat kebijakan. Kalau kita tidak bisa mendorong perempuan, kebijakannya seringkali tidak ramah,” katanya.

Perludem menilai modal yang dimiliki laki-laki untuk Pilkada jauh lebih tinggi, baik itu modal uang, sosial dan politik. Oleh karena itu jumlah peserta laki-laki jauh lebih banyak dari peserta perempuan. Perludem berharap kasus serupa tidak berulang pada Pilkada serentak tahun depan.

“Ini PR (pekerjaan rumah) untuk Pilkada tahun depan, agar peserta perempuan lebih banyak. Harus ada penyesuaian persyaratan, agar peserta perempuan bertambah,” ujarnya. (dik)

Categories: Survei

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*