Ini Peta Koalisi Parpol Dalam Pilkada Serentak 2015

Ini Peta Koalisi Parpol Dalam Pilkada Serentak 2015

IndoElection.com, Jakarta – Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) merilis peta koalisi Pilkada serentak tahun 2015 yang akan digelar pada 9 Desember mendatang. Peta koalisi tersebut meliputi jumlah dukungan pasangan calon, jumlah perbandingan dukungan perolehan suara partai politik (parpol) pada Pemilu Legislatif tahun 2004 lalu dengan tingkat pasangan calon yang diusung di Pilkada serta peta koalisi antarparpol.

Dari 630 pasangan calon (paslon) atau 80 persen dari jumlah total peserta yang mengikuti Pilkada, kurang lebih sekitar 244 paslon didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 211 paslon, Demokrat 205 paslon, Nasdem 199 paslon, Partai Amanat Nasional (PAN) 195 paslon, Hati Nurani Rakyat (Hanura) 187 paslon.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 174 paslon, Partai Keadilan sejahtera (PKS) 162 paslon, Golongan Karya (Golkar) 116 paslon, Partai Keadilan dan Pesatuan Indoensia (PKPI) 90 paslon, Partai Bulan Bintang (PBB) paslon dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 70 paslon.

Peneliti JPRR Masykurudin Hafid mengatakan bahwa dengan jumlah pasangan calon yang ada jelas akan berpengaruh terhadap peluang kemenangan yang akan bisa diraih oleh partai politik yang bertarung dalam Pilkada.

“Yang kami gali adalah bagaimana sebenarnya hubungan dukungan terhadap paslon dari parpol di masing-masing daerah. Data ini kami dapatkan dari laman resmi KPU info pilkada. Kami petakan juga bagaimana kompsosisi peta koalisi di pilkada serentak,” kata Masykur di Media Center Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu 9 September 2015.

JPRR melakukan tiga analisis antara lain, berapa paslon yang didukung oleh parpol, perbandingan jumlah dukungan dengan perolehan suara partai politik, serta hubungan koalisi yang tergabung dalam pilkada serentak.

“Kan sebenarnya parpol bisa mencalonkan di pilkada itu karena berdasarkan perelehan suara di pileg. Jadi kalau perolehan suara besar berbanding lurus dengan kursi banyak dan pencalonan yang tinggi,” ujarnya.

Selain itu ia juga melihat faktor konflik internal partai menjadi salah satu parameter tinggi tidaknya jumlah paslon peserta menggikuti Pilkada. Menurutnya akibat konflik tersebut syarat dokumen pendaftaran lebih berat dibanding partai lain. Jelas kata Masykur itu berpengaruh langsung terhadap jumlah paslon yang didaftarkan.

“Kalau direfleksikan pada pilkada sebelumnya Golkar selalu punya calon di setiap daerah. Namun akibat konflik berpengaruh langsung pada calon yang mereka usung,” terang Masykur.

Menurut Masykur hal lain yang menarik adalah terkait tingkat perolehan suara parpol di Pemilihan Legistatif (Pileg) dengan tingkat jumlah paslon yang diusung. Menurutnya ada sejumlah kenaikan antara tingkat hasil perolehan suara dengan tingkat jumlah paslon yang diusung seperti Partai NasDem dan Hanura.

“Perolehan pileg 8 tapi jumlah paslon untuk Pilkada ada di peringkat 4. Selain itu ada juga Hanura pileg di peringkat 10, pilkada di peringkat 6.”

JPPR mencermati peta koalisi partai politik. Menurutnya PDIP menjadi partai yang paling banyak berkoalisi dengan Nasdem, sedangkan Gerindra menjadi partai paling berduet dengan PAN.

“Kalau kita lihat Gerindra dan PAN, Gerindra itu paling banyak koalisi dengan PAN, PAN paling banyak koalisi dengan PDIP. Kita bisa mengingat seminggu yang lalu apakah pengurus PAN pindah ke KIH. PAN itu punya peta yang cukup menarik di koalisi antar mereka sendiri,” ujar Masykur. (dik)

Categories: Paslon Pilkada

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*