Duh! Data Survei Panwaslih Jember Rawan Dijual ke Cabup Rp 1 Miliar

Duh! Data Survei Panwaslih Jember Rawan Dijual ke Cabup Rp 1 Miliar

IndoElection.com, Jember – Panitia Khusus DPRD Jember, Jawa Timur, mengadili Panitia Pengawas Pemilihan Kepala Daerah (Panwaslih), karena adanya perintah kepada panitia pengawas kecamatan dan petugas pengawas lapangan (PPL), untuk mendata peluang pasangan calon kepala daerah yang menang di tiap tempat pemungutan suara.

Panwaslih Jember menerbitkan formulir Pemetaan dan Monitoring Lokasi TPS serta Kerawanan Hari-H Pemungutan Suara. Di sana PPL diperintahkan mengisi lokasi TPS, identitas dan nomor telpon ketua kelompok penyelenggara pemungutan suara, identitas pengawas TPS, potensi kerawanan, dan prediksi pasangan calon yang menonjol.

Adanya kolom ‘prediksi pasangan calon yang menonjol’ inilah yang dipersoalkan Ketua Pansus Pilkada DPRD Jember Ayub Junaidi, dalam rapat kerja di gedung Dewan, Selasa (1/12/2015). Rapat kerja dihadiri Ketua Panwaslih Dima Ahyar dan anggota KPU Jember Achmad Hanafi.

“Ini bisa dijual. Dulu PKB minta survei ke LSI (Lingkaran Survei Indonesia) saja harus bayar Rp 150 juta. Itu pun sampelnya tidak seluruh rakyat Jember. Tapi kalau Panwaslih yang survei bisa menyeluruh. Bila mau, dijual Rp 1 miliar (ke pasangan calon kepala daerah) bisa saja,” kata politisi pendukung calon bupati Sugiarto dan Moch. Dwikoryanto ini.

Dengan hanya berbekal data dari Panwaslih, paslon sudah bisa menilai kantong-kantong potensi menang dan kalah di tingkat TPS. Mereka bisa memperkirakan tingkat kemenangan dalam pilkada.

“Saya sudah cek ke Badan Pengawas Pemilu RI dan provinsi. Tidak ada perintah untuk melakukan pengawasan dengan cara mendata peluang pasangan calon kepala daerah yang menang di tiap tempat pemungutan suara,” kata Ayub.

Ketua Panwaslih Dima mengatakan, formulir itu dibuat untuk kepentingan pemantauan dan pengawasan. “Yang membuat Divisi Penindakan dan Penanganan Pelanggaran yang dipimpin Pak Waid,” katanya.

Dima meyakinkan, bahwa formulir dan hasil pendataan itu tidak untuk dipublikasikan. “Ini untuk kepentingan internal Panwaslih,” katanya.

Dima membantah Panwaslih melakukan survei. “Ini berbeda dengan survei. Tidak ada wawancara, tanya jawab, atau kuesioner untuk responden,” katanya.

Namun, Ayub membantah ucapan Dima. “Memang apa yang dilakukan Panwaslih bukan survei. Tapi substansinya tetap survei, karena sama-sama memperkirakan pemenang pilkada sebelum pelaksanaan pemungutan suara di tiap TPS,” katanya.

“Panjenengan (Anda) jangan terlalu mengentengkan masalah ini. Ini sangat berbahaya. Tak ada tugas pegawasan Panwaslih untuk memprediksi calon yang menonjol atau menang di sebuah TPS,” kata Ayub. (feb)

Categories: Kampanye

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*