Bentrok Kampanye Pilkada Sleman, Polisi Ancam Jerat UU Darurat

Bentrok Kampanye Pilkada Sleman, Polisi Ancam Jerat UU Darurat

IndoElection.com, Sleman – Kampanye terbuka pasangan nomor dua calon kepala daerah Kabupaten Sleman, diwarnai penganiayaan dan perusakan. Polisi menyita senjata tajam pedang, besi gir, balok kayu, bambu, dan pistol air soft gun.

Dua orang ditangkap karena membawa pedang dan besi yang atasnya ada gir sepeda motor. Mereka membawa senjata itu untuk berjaga dan berniat melawan jika terjadi bentrokan. Mereka dikenai pasal Undang-Undang Darurat. “Senjata-senjata itu diamankan polisi di sekitar lapangan Denggung, Sleman,” kata Faried Zulkarnain, Kepala Kepolisian Sleman, Senin, 23 November 2015.

Kampanye pasangan Sri Purnomo/Sri Muslimatun, terjadi Minggu, 22 November, didukung delapan partai besar dan kecil. Sayangnya, arak-arakan sepeda motor dan mobil dengan suara knalpot memekakkan telinga itu, justru diwarnai kericuhan dan memakan korban.

Banyak peserta kampanye membawa senjata, namun dibuang saat ada razia. Bagi yang membawa kayu dan ketahuan polisi, masih dilepaskan. Tidak hanya itu, polisi juga menyita dua botol minuman keras oplosan, yang dibawa dan diminum saat kampanye berlangsung. “Kalau niatnya kampanye, seharusnya damai. Tidak usah membawa senjata dan tidak perlu ada pengerahan massa luar daerah,” kata Faried.

Salah satu tersangka yang ditangkap, AP, 19 tahun warga Kasihan Bantul. Dia ikut rombongan kampanye dan membawa besi dengan ujung gir sepeda motor. Tujuannya, untuk melukai lawan yang berbeda partai politik. “Sengaja bawa senjata untuk bentrok,” kata dia.

Begitu pula tersangka lainnya, HP, 39 tahun, warga Mlati, Sleman. Dia ditangkap saat masih membawa pedang. Sementara itu, polisi masih menyelidiki kasus penganiayaan pengemudi dan penumpang Toyota Yaris, oleh sekelompok massa usai kampanye, di jalan Damai. Akibatnya, dua orang dirawat di Jogja Internasional Hospital. “Kami masih menyelidiki kasus itu, meski korban belum melapor,” kata Faried.

Polisi mengenakan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Darurat No 13, Tahun 1951. Ancaman hukumannya, selama-lamanya 10 tahun.

Faris Afristyan, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, saat ini masih tergolek di rumah sakit. Faris mengaku, tiba-tiba diserang sekelompok massa. Mobil dihancurkan, pinggangnya robek disabet senjata tajam. “Mobil saya digedor-gedor saat berpapasan dengan rombongan,” kata dia.

Begitu pula teman perempuannya, Ayu Diah Eka Apsari, mengalami luka memar akibat pukulan dan terkena serpihan kaca, karena massa memukuli dan menghancurkan kaca-kaca mobil. (dik)

Categories: Delik

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*